Memahami Gagasan Politik Ke-Islaman Amien Rais

Amien Rais adalah salah seorang pemikir, pemimpin gerakan dan seorang begawan kebangsaan yang telah malang melintang dalam sejarah perkembangan politik tanah air. Amien Rais dikenal sebagai tokoh yang kritis, spontan dan terkadang blak-blakan. Bagi sebagian orang, terutama kultur tertentu, gaya berpolitik Amien Rais dianggap telalu lugas, bahkan sebagian menganggapnya terlalu kasar. Kritik tajam kepada Pemerintahan Joko Widodo dianggap oleh pendukung presiden yang disusung PDIP tersebut terlalu berlebihan dan memancing serangan balik, tidak hanya pada pemikiarannya, tetap juga pada pribadi beliau.

Untuk memahami Amien Rais tentu saja tidak bisa dilihat pada kacamata saat ini saja, bagaimana Amien Rais mengkritik keras pemerintahan Joko Widodo. Namun harus dilihat dalam spektrum luas, sejak pemerintahan orde baru. Amien Rais dilahirkan untuk menjadi penyeimbang kekuasaan. Kritik tajamnya ditujukan untuk semua pemerintahan yang dianggap melenceng dari cita-cita bersama.

Amien Rais memiliki pandangan bahwa demokrasi harus dilandasi dengan Tauhid, tanpa itu, maka demokrasi akan gagal. Amien Rais memperkenalkan demokrasi ke-Tuhanan atau demokrasi religius, dimana Tauhid ditempatkan sebagai pondasi dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Demokrasi harus membuka partisipasi publik yang luas dalam pengambilan keputusan, persamaan didepan hukum, distribusi pendapatan yang adil, pendidikan yang merata, menegakkan keadilan sosial, menegakan HAM dan menciptakan kehidupan yang madani. Berpijak pada titik inilah kita bisa memahami, bagaimana kemudian Amien Rais mendirikan Partai Ummat, yang menjadikan Tauhid sebagai pondasi utama dan menjadi payung untuk semua gagasan kebangsaan didalamnya.

Dalam pandangan Amien Rais, kita wajib menegakkan Tauhid sosial, yaitu pemaknaan Tauhid dalam kehidupan sosial yang saat ini dirasa semakin memudar. Tauhid sosial memiliki dimensi kesatuan ke-Tuhanan, kesatuan penciptaan, kesatuan kemanusian, kesatuan pedoman hidup dan kesatuan tujuan hidup. Tauhid sosial tersebut menjadi dasar dalam aktivitas politik yang harus disertai dengan dakwah dan profesionalisme politik, dengan demilkian dalam berpolitik juga harfus menyampaikan amar ma’ruf dan nahi munkar, supaya tujuan mulia dalam menegakkan Tauhid dapat terlaksana.

Amien Rais juga menolak gagasan formalisasi negara Islam dan memilih demokrasi sebagai jalan atau sistem pemerintahan. Namun demokrasi tersebut harus menjunjung tiga pilar utama yaitu negara harus dibangun atas dasar keadilan, menegakan prinsip musyawarah, dan adanya persamaan serta persaudaraan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Amien Rais mendukung demokrasi karena demokrasi menjungjung tinggi nilai-nilai ke-Islaman yaitu kebebasan, persamaan dan keadilan yang dijamin oleh undang-undang. Jika kita melihat gagasan Amien Rais yang sudah dibangun sejak muda, maka kita bisa memahami dasar pendirian Partai Ummat dan bagaimana arah perkembangan partai ini. Tentu saja, kader muda dan semua yang ada perlu memperkaya gagasan Amien Rais, tertutama memperjuangkan agar demokrasi religius tercipta dalam perpolitikan Indonesia.

Tulisan ini disarikan dari skripsi karya Sigit Prayitno dengan judul Pemikiran Amien Rais tentang Politik Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2008).

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *