Memahami Makna Perisai Tauhid Pancasila

Sejatinya sila-sila dalam Pancasila adalah satu kesatuan yg tidak terpisahkan, walaupun dalam perkembangannya begitu banyak tafsir dan pemahaman. Dalam perkembangan sejarahnya Pancasila tidak jarang ditafsirkan secara paksa oleh penguasa.

Rezim orde lama yg dianggap melahirkan Pancasila justru tumbang karena dianggap membiarkan G30S PKI yg justru dianggap hendak mengubah Pancasila dengan komunisme. Demikian pula rezim orde baru yg sering mengklaim sebagai rezim yg menjalankan Pancasila secara murni dan konsekuen juga tumbang karena melahirkan kekuasaan diktator dan korup yg jelas hakikatnya adalah antitesis Pancasila.

Perkembangan tafsir serupa juga terjadi hari ini, dimana Pancasila dijadikan alat untuk menghalau lawan politik yg dianggap tidak terjalan dengan kekuasaan terutama dari kalangan Islam. Bukan rahasia lagi pada rezim inilah Pancasila dihadapkan dengan Islam, semoga rezim menyadarinya dan tidak sampai pada kejatuhan seperti rezim sebelumnya yg tidak memperlakukan Pancasila sebagaimana mestinya.

Pancasila adalah Grundnorm buat bangsa Indonesia. Pancasila semestinya menjadi dasar pengikat kebangsaan kita dan pada saat yang sama menjadi landasan filsafat bagi pembangunan bangsa dalam segala sektor kehidupan. Pada saat yang sama Pancasila bisa selalu mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan bahkan bisa menjadi rumah besar bagi begitu banyak keragaman didalamnya, termasuk agama. Islam dan Pancasila tidak semestinya dibenturkan, karena seandainya Indonesia menjalankan semua syariat Islam dalam bernegara, niscaya tidak akan bertentangan dengan Pancasila.

Dalam lima sila Pancasila, Ketuhanan ditempatkan pada sila pertama. Ini menunjukan bahwa Ketuhanan dan Agama mendapatkan posisi tertinggi dalam kehidupan bernegara kita. Dalam praktiknya pengalaman sila yg lain termasuk sistem hukum yg kemudian diturunkan darinya, mestinya tidak bertentangan dengan agama dan menempatkan Filsafat Ketuhanan dalam posisi utama.

Demikian pula, lambang Ketuhanan dalam perisai Pancasila ditempatkan ditengah, bersentuhan dengan semua sila lainnya. Maknanya adalah sila-sila lainnya harus dilandaskan pada nilai-nilai Ketuhanan yg dalam pengertian Islam adalah tidak bertentangan dengan syariat agama. Karena nilai sila pertama Pancasila dalam Islam tafsirnya adalah ajaran agama atau syariat Islam. Oleh karena itu, menjadi tidak relevan membenturkan Islam dengan Pancasila dimana yang sebenarnya alat tafsir Pancasila adalah Islam. Justru orang Islam yg Pancasilais adalah yg mengamalkan syariat Islam dengan kafah dan menjadikan Tauhid menjadi dasar utamanya. Oleh karena itu adalah kewajiban kita politisi Islam memperjuangkan syariat Islam untuk berlaku di Indonesia pada semua sektor kehidupan. Namun perjuangan itu harus dilakukan dengan sabar dan beriring jalan dengan dakwah. Karena hari ini, tidak hanya nonmuslim yg takut dengan syariat Islam, bahkan Ummat Islam sendiri termasuk ‘para ulama’ tertentu juga takut dan paranoid dengan istilah syariat Islam. Kondisi itu terjadi karena referensi syariah Islam yg digunakan adalah kondisi timur tengah yg dilanda perang saudara, kekerasan dan terorisme. Padahal sejatinya referensi yang digunakan semestinya adalah alQuran dan sunnah dengan perihidup yg dicontohkan Rosululloh dan para sahabatnya yg mulia yg pernah mengantarkan Islam pada kejayaan dan peradaban terbaik dalam sejarah dunia. Itulah kehidupan yg kita kenal dengan Madaniah.

Penganut Islam sejati tidak mungkin melepaskan tata-kehidupan dari Islam. Namun semangat saja tidak cukup, kita perlu ilmu dan kesabaran untuk menyampaikan dakwah, dengan kelembutan dan kesantunan. Metode yg tidak tepat justru melahirkan antipati dan rasa takut. Kita harus tujukan dan memberi contoh melalui keteladanan, baik dalam berpikir, berkata dan bersikap. Dengan itu orang tidak lagi salah paham dengan Islam. Sisanya kita harus bersabar dengan perjuangan, jangan mencari jalan pintas dan melupakan esensi perjuangkan.

Kita tidak pernah memperjuangkan ketua umum kita menjadi Presiden, kita tidak memperjuangkan jumlah kursi di DPR, kita tidak memperjuangkan jabatan untuk kader partai. Semua itu hanya sarana, tujuannya adalah kesejahteraan rakyat dan muara akhirnya adalah keridhoan Alloh SWT dan menganggap semua sebagai ibadah.

Partai Ummat menempatkan Tauhid sebagai asas utamanya dan mungkin menjadi satu-satunya partai yang dengan tegas menyatakan Islam dan Tauhid menjadi dasar perjuangan. Inilah yang membuat Partai Ummat menjadi istimewa dibanding lainnya. Saya berharap partai ini bisa mengembalikan perjuangan politik Islam pada tempatnya. Karena alasan itulah saya bergabung dan juga banyak politisi yg merasa sebelumnya tidak terwakili merasa mendapatkan momentum dan tempat untuk berjuang. Namun kita perlu mempertegas kharakter partai ini menjadi partai etik yang menjunjung tinggi norma dasar Islam dan Pancasila.

Kita harus tegas menolak politik uang, bagi-bagi jabatan, korupsi, oligarki, dan punya rasa malu. Kalau pada akhirnya sama dengan yg lainnya? Maka sebaiknya tidak membawa Islam dalam perjuangannya. Islam tidak patut dijadikan dagangan, apalagi dijual dengan harga murah. Mari berjuang dengan landasan Pancasila dan Islam secara bersamaan. Jangan membuat malu Ummat Islam dan Insya Alloh kita bisa.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *