Mengapa Harus Memilih Partai Ummat?

Pragmatisme politik saat ini luar biasa terjadi. Perimbangan kekuatan ketika kampanye Pileg dan Pilpres, kini sudah berubah karena kecenderungan pada kekuasaan. Secara etika, yang kalah akan berada diluar pemerintahan menjadi penyeimbang dan tetap mewakili kepentingan dan gagasan konstituennya, bukan mengantre didepan gerbang Istana untuk mengemis dan menghiba pembagian kekuasaan.

Sikap politik ummat, termasuk keresahan, kekecewaan dan bahkan kemarahan, harusnya terpresentasikan oleh kekuatan politik formal yang ada, termasuk terwakili oleh partai politik yang menjadi muara dan corong suara rakyat terutama konstituennya. Yang terjadi saat ini, elit politik seperti memiliki dunia sendiri, agenda sendiri dan sekedar memperjuangkan ketua umumnya mendapatkan jabatan, atau bahkan menjadi calon presiden untuk periode Pilpres mendatang, nyaris tidak lebih.

Komparasi kekuatan politik formal mestinya seimbang dengan sikap politik publik. Bagaimanapun, pemerintahan harus dikontrol, karena secara alamiah kekuasaan cenderung korup dan cenderung resisten kritik. Kekuasaan absolut pada suatu golongan akan mendorong pengumpulan sumber daya pada satu golongan, baik sumber daya jabatan, ekonomi, sosial-politik dan hukum, dan ini akan melahirkan ketidakadilan, karena kencenderungan manusia egois dan rakus. Kekuatan besar memberikan kebebasan bertindak dan seringkali kalau tanpa kendali akan cenderung merusak.

Partai Ummat, paling tidak yang saya pahami, hadir sebagai kekuatan politik baru untuk mengakomodasi sikap politik publik yang tidak tersalurkan kepada partai dan golongan politik mapan di negeri ini yang sudah terlanjur orientasinya kekuasaan. Partai Ummat mewakili kegelisahan sebagian publik Indonesia yang dipertontonkan ketidakadilan hukum dan sosial, resah dengan hutang yang semakin menggunung, dan kecewa dengan semakin merebaknya islamphobia dan tafsir tunggal Pancasila, bahkan membenturkan Islam dan Pancasila. Tujuannya adalah menegakan kehidupan sekuler di tanah Indonesia yg relijius.

Kita harus bangkit dan melawan dengan gagasan dan karya yg positif untuk Ummat dan bangsa. Kalaupun pada akhirnya kita kalah, kita akan tetap bisa membusungkan dada dan berkata kepada anak cucu kita nanti, bahwa kita tidak diam membiarkan gerakan sekulerisme berkembang di tanah Indonesia yg relijius. Pada saatnya nanti anak cucu kita akan terus melanjutkan perjuangan untuk menciptakan Indonesia relijius yang adil, makmur dan sejahtera, itulah esensi sebenarnya dari Pancasila.