Penyebab Gagalnya Penanganan Pandemi COVID-19 Indonesia

Kasus positif COVID-19 mengalami ledakan yg parah dan dipercaya jika tidak segera ditangani dengan baik, kasus serupa seperti di India bisa terjadi di Indonesia. Banyak rumah sakit yg tingkat keterisiannya melampaui standar yg ditetapkan WHO, dan beberapa RS sudah mencapai 100% bahkan ada yg lebih dan beberapa terancam kolaps karena tidak sebandingnya jumlah pasien dan kapasitas rumah sakit.

Tentu kondisi ini memprihatinkan karena nampaknya pemerintah gagal untuk mengatasi pandemi dengan benar. Setelah penyerapan anggapan penanggulangan COVID-19 rendah, kelangkaan APD, honor nakes yang terlambat, bahkan diperparah dengan mega korupsi bansos yang dilakukan menteri sosial sekaligus bendahara partai penguasa telah memperburuk kondisi penanganan pandemi di Indonesia.

Masalah sepertinya tidak berhenti disana. Kebijakan ambigu dan tidak tegas juga terjadi. Banyak pemimpin yg tidak menunjukan keteladanannya, bahkan dalam beberapa agenda malah menciptakan kerumunan. Mudik dan kegiatan ibadah dilarang, namun mall, restoran dan tempat rekreasi dibuka bahkan dianjurkan untuk dikunjungi. Pembatasan masyarakat dilakukan, tapi TKA dan WNA asing dari negara pusat pandemi seperti China dan India malah diperbolehkan masuk.

Ketiadaan keteladanan, ketegasan dan konsistensi dalam kebijakan penanganan COVID-19 membuat pemerintah jadi kehilangan wibawa dan publik kehilangan kepercayaan. Dengan demikian, kebijakan apapun yg dilakukan menjadi tidak efektif. Disisi lain, antara pejabat sering menyampaikan hal yang berbeda bahkan bertentangan. Demikian pula pemerintah pusat dan daerah juga sering tidak seirama. Istilah terus berubah-ubah dan selalu gamang untuk memilih memprioritaskan ekonomi atau penanganan pandemi.

Vaksinasi yg juga digembor-gemborkan nyatanya adopsinya juga masih rendah. Ditambah blunder menteri pertanian dan kini menteri BUMN yang diluar kompetensi dan kewenangannya malah mengurusi obat COVID-19 yg ternyata kontroversial dan tidak ilmiah. Pemerintah nampaknya terengah-engah menangani pandemi. Disisi lain malah bergulir isu perpanjangan masa jabatan presiden dengan alasan kondisi pendemi yg nyatanya penanganannya tidak menampakkan hasil yg menggembirakan.

Nampaknya kepemimpinan Presiden Joko Widodo sangat lemah dalam menangani pandemi. Kita tidak tahu sampai mana perjalan pandemi ini akan terjadi. Namun kita berharap bahwa ini akan berakhir. Namun dengan kepemimpinan seperti yang kita saksikan hari ini, apakah bisa pemerintah menanganinya dengan baik? Hanya waktu yg akan menjawab, sepertinya menunggu waktu 2024 terasa menjadi waktu yang sangat panjang untuk kita pendamba perubahan. Namun kita harus tetap menghargai konstitusi dan berharap keajaiban terjadi dan pandemi segera pergi.

***