Tiga Periode Jokowi, Gagasan Usang yang Mestinya Telah Usai

Gagasan Presiden 3 periode dan dibentuknya relawan JokPro hanyalah pekejaan para pahlawan kesiangan yang sudah kehabisan gagasan untuk membangun Indonesia. Tujuan utamanya mungkin hanya sekedar cek ombak, mencari sisa-sisa pembagian jabatan yg mungkin masih bisa diberikan.

Secara substansi gagasan itu akan merusak demokrasi, dan mengarah kepada pemerintahan yg berpotensi dan cenderung tirani. Kekuasan yang terlalu lama hanya akan memberikan waktu dan kesempatan yg luas kepada kekuasaan untuk mengkonsolidasikan kekuatan, melemahkan opsisi, memperkuat oligarki dan cenderung melahirkan tirani. Kita sudah cukup dengan pengalaman presiden seumur hidup Bung Karno yg kontraproduktif untuk bangsa atau 32 tahun orde baru yg meninggalkan kerusakan pada sistem kenegaraan kita.

Disisi lain tidak ada kinerja Presiden Joko Widodo yang luar biasa selama pemerintahannya. Presiden sendiri sering kecewa, marah, dan jengkel dengan pemerintahan yg beliau pimpin sendiri. Disisi lain, pertentangan tajam di masyarakat yg berbasis pertentangan identitas terus mengemuka, termasuk benturan Islam dan Pancasila juga tidak mereda. Seandainya ada pilihan konstitusional yg halal, maka dengan senang hati banyak masyarakat yg rela Presiden Joko Widodo berhenti lebih awal, paling tidak supaya tidak menambah hutang negara, bukan malah menambah masa jabatan. Namun karena kita menghargai konstitusi dan sistem yg ada, maka kita tetap menerima Presiden menyelesaikan jabatannya hingga akhir, namun tolong jangan ditambah lagi.

Sikap ini hanya menunjukan kepada kita bahwa masih banyak orang yg memuja jabatan dan kekuasaan. Ide presiden tiga periode dikhawatirkan hanya bagian dari budaya ABS atau budaya melanggengkan kekuasaan. Kita yg masih memiliki nurani dan pikiran jernih sebaiknya memikirkan cara bagaimana membangun demokrasi dan sistem pemerintahan yang sehat, bukan hanya mengedepankan syahwat kekuasan dan membuat kita lupa rasa malu. Ide presiden tiga periode adalah gagasan usang yg tidak layak untuk dibicarakan, apalagi di perjuangkan.