image

ABDEE SLANK, BAGI-BAGI KURSI DAN JUAL BELI DEMOKRASI

Ketika Abdee Slank menjadi komisaris PT. Telkom, banyak pihak yang mempertanyakan, bahkan tidak sedikit yg mengejek dan nyinyir dengan keputusan itu. Tentu ini tidak adil untuk Abdee Slank, karena sebenarnya banyak sekali komisaris BUMN lain yang lebih tidak layak daripada Abdee Slank untuk memimpin perusahaan plat merah.

 

Tapi ada yg lebih diperlakukan tidak adil dibandingkan Abdee Slank, yakni rakyat Indonesia. BUMN yg semestinya menjadi instrumen untuk kemakmuran rakyat, nyatanya menjadi alat untuk berbagi kekuasaan dengan pihak-pihak yg dianggap berjasa pada sang penguasa. Ditengah bergugurannya banyak BUMN yg kinerjanya jeblok, fenomena ‘bancakan’ BUMN ini terasa menjadi ironi dan begitu menyayat hati.

Fenomena ini hanya kelanjutan dari fenomena politik dagang sapi, berbagi kekuasaan dan pesta pora kaum pemenang, yg entah mengapa merasa memiliki negeri ini. Politik berbiaya tinggi, membuat siapapun kontestannya harus memiliki sumber daya tinggi, sehingga tidak heran jika kemudian mereka berhutang budi, pada para donatur, relawan dan partai politik pendukung yang secara ‘etika’ cuan mereka harus dikembalikan. Kompensasi paling mungkin adalah kekuasaan, kalau tidak, paling jelek ya proyek pemerintahan.

 

Fenomena ini harus dihentikan, karena siapapun pemenangnya, akan terjebak pada kondisi yang sama. Muara masalahnya sama, politik berbiaya tinggi membuat semua orang menjadi tidak terpuji. Partai Ummat sebagai sedikit partai yg ingin menjadi antitesis kekuasaan saat ini, harus memulai budaya politik baru yg lebih bermartabat. Politik tanpa mahar, politik yang mengajari masyarakat memiliki martabat dengan tidak menjual suara. Ketika jual beli suara terjadi, maka jual beli kekuasaan akan mengikuti dan jual beli idealisme tidak bisa dihindari. Jangan sampai mental jual beli ini, membuat anak cucu kita pada akhirnya menjual negeri ini karena mencontoh orang tuanya sendiri. Dan Indonesia bisa saja berakhir dini.