BAGAIMANA DEMOKRASI (INDONESIA) MATI
Demokrasi bisa mati ketika prosedur demokrasi masih berjalan dan dipertahankan, tetapi norma dasar dan moralitas demokrasi sudah ditinggalkan. Presiden masih dipilih oleh rakyat, tapi yang bisa menjadi calon Presiden hanya berasal dari kalangan oligarki yang dikuasai segelintir tokoh, sehingga Presiden terpilih tidak pernah punya kemandirian dalam menentukan kebijakan.
Partai peserta politik banyak, tapi pemilu hanya menentukan partai mana mendapatkan lebih banyak dibandingkan partai lain. Peran oposisi mati, karena orientasi partai hanya kekuasaan, sehingga ketika pemilu usai semua partai bergabung dengan kekuasaan, sehingga fungsi kontrol dan pengawasan tidak berjalan.
Lembaga hukum dan peradilan lengkap, tapi diisi oleh pejabat-pejabat yang dipilih oleh Presiden dan DPR yang sesuaikan dengan kepentingan kekuasaan. Tidak ada pembredelan media, tetapi hampir semua media utama di beli dan dimiliki oleh politisi dan penguasa.
Demikian halnya untuk kebijakan ekonomi, sosial, politik bahkan ormas seluruhnya terafiliasi dengan kekuasaan. Demokrasi prosedural yang terjadi juga melahirkan pemimpin Populis yang didukung mayoritas rakyat dan dianggap sebagai ratu adil yang khusus diturunkan Tuhan untuk membawa bangsa menuju sejahtera, tapi disisi lain politik bernuansa SARA dan kebencian merajalela dan rasionalitas menghadapi ajalnya.
Inilah skenario kematian demokrasi di Indonesia, jika elit dan pentinggi negeri tidak sadar karena buaian empuk kekuasaan, dan masyarakat asik dengan perdebatan yang tidak substansial, maka sejarah orde lama dan orde baru akan kembali terulang, dengan aktor dan bungkus yang berbeda, tapi dengan esensi yang sama, pembajakan kedaulatan rakyat.
Mari kita tumbuhkan kesadaran kolektif untuk membenahi bangsa, hentikan pertentangan bernuansa SARA, politik dendam dan kebencian. Kita hanya bisa membangun negeri dengan cara yang benar dan dilakukan bersama-sama. Bukankah orde lama dan orde baru awalnya dipimpin oleh rezim yang di puja dengan pemimpin besar yang kharismatik, namun akhirnya berakhir kecewa. Bangsa modern tidak pernah menyandarkan nasibnya pada ‘pemimpin besarnya’, namun melalui pemberdayaan masyarakat sipil, sistem kenegaraan dan kelembagaan yg kuat.
Partai Ummat hadir untuk mengkonsolidasikan kekuatan semua golongan yang dikecewakan dan terpinggirkan. Kita harus selamatkan demokrasi yang terus tergusur dan jika terus dibiarkan, pada akhirnya akan menemui ajalnya. Kita harus melawan, harus menyingsingkan lengan baju, demi masa depan anak cucu.
Partai Ummat, Lawan Kezaliman dan Tegakan Keadilan.